Latest Post

Lika-liku Menuju Kursi Presiden

Written By Asrul Sirajuddin on Saturday, 23 August 2014 | 22:09

Liputan6.com, Jakarta - Rangkaian Pemilu 2014 telah usai. Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) tinggal menunggu pelantikan presiden dan wakil presiden yang akan dilaksanakan pada 20 Oktober mendatang.

Dalam Kopi Pagi yang ditayangkan Liputan 6 Pagi SCTV, Minggu (24/8/2014), perjalanan pasangan Jokowi-JK menuju kursi presiden penuh dengan lika-liku politik. Mulai dari saling hujat hingga saling gugat. 

Berakhir sudah sengketa hasil Pemilu Presiden 2014. 9 Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) satu suara menolak gugatan yang diajukan kubu Prabowo-Hatta.

Keputusan tersebut diambil setelah melewati serangkaian persidangan yang sangat menyita energi dan perhatian masyarakat.

Sidang demi sidang yang digelar sejak 6 Agustus silam tak pernah luput dari sorotan media. Mulai dari persidangan pertama yang dihadiri oleh Prabowo Subianto-Hatta Rajasa hingga para saksi.

Kelugasan para saksi yang dihadirkan di ruang persidangan sempat menggegerkan para hakim. Hingga kericuhan aksi demo masa pendukung Prabowo di kawasan patung kuda di Jakarta Pusat, yang berujung dengan terlukanya sejumlah pendemo. 

Namun pasca-pengumuman hasil sengketa Pilpres 2014 ada pihak yang gembira, ada pula yang masih belum legowo.

Sementara itu, jalur politik masih akan ditempuh oleh kubu Prabowo-Hatta. Namun bagi pasangan Jokowi-JK, keputusan MK sudah final dan mengikat sehingga upaya apa pun dianggap hanya akan sia-sia.

Pelaksanaan Pemilu 2014 memang menorehkan sejarah baru. Sebab, baru kali ini pemilu presiden atau pilpres hanya diikuti oleh 2 pasang kandidat.

Kemenangan Jokowi-JK juga menjadi fenomena baru dengan munculnya para relawan sebagai tim pemenangan Jokowi. Kehadiran mereka pun memberikan kontribusi besar dalam perjalanan karier Jokowi.

Baju kotak-kotak dan blusukan juga identik dengan sosok Jokowi. 2 Program andalan yang kerap didengungkan saat kampanye adalah kartu Indonesia pintar dan kartu Indonesia sehat.

Untuk itu sekarang saatnya masyarakat menanti janji sang presiden terpilih selama 5 tahun ke depan.

Informasi Pendaftaran dan Jadwal Penerimaan CPNS Tahun 2014

Penerimaan cpns tahun 2014 ini memiliki persaingan yang cukup ketat mengingat pendaftaran CPNS tahun 2014 ini akan diikuti oleh lebih banyak pendaftar, karena yang akan ikut adalah yang belum lulus hingga tahun 2013 ditambah lulusan - lulusan baru dari berbagai universitas di Indonesia, dengan demikian jika Anda ingin lulus dan mencapai impian yang telah lama Anda idamkan untuk menjadi seorang PNS, persiapkanlah diri Anda dengan sebaik-baiknya, yaitu mulai dari sekarang.

Metode Ujian Tes CPNS 2014


Pelaksanaan tes CPNS akan dilaksanakan pada 8 September 2014. Direncanakan semua Instansi pusat maupun daerah pada penerimaan CPNS 2014 akan menerapkan ujian CPNS dengan sistem Computer Assisted Test (CAT). Yaitu ujian yang dilakukan dengan menggunakan alat bantu komputer. Instansi pusat dan beberapa pemerintah provinsi dipastikan akan menerapkan sistem CAT CPNS ini. 

Prioritas Jabatan CPNS 2014


1. Instansi Pusat

  • Guru (guru kelas, dan guru produktif) yaitu guru yang memberikan keterampilan hidup / life skill untuk siswa.
  • Dosen.
  • Jabatan penegak hukum (pro justice), seperti jaksa, panitera, pengaman lembaga pemasyarakatan (sipir).
  • Jabatan utama (core business) fungsi instansi, seperti:
  • Pengawas tata bangunan dan perumahan, pengawas teknik jalan dan jembatan, penata ruang, pengawas teknik pengairan, arsitek.
  • Pemeriksa pajak, penyuluh pajak, pemeriksa bea cukai.
  • Pemeriksa merek, pemeriksa dokumen imigrasi.
  • Mediator hubungan industrial, instruktur, pengawas ketenagakerjaan.
  • Pengamat gunung api, inspektur tambang.
  • Penguji kenderaan bermotor, pengawas keselamatan pelayaran, ATC.

2. Instansi Daerah

  • Guru (guru kelas dan guru produktif) yaitu guru yang memberi keterampilan hidup / life skill untuk siswa, guru tataboga, guru seni kriya, dan guru desain grafis.
  • Tenaga medis dan paramedis (dokter, dokter spesialis, bidan, perawat, dan refraksionis optisien).
  • Jabatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat (pro growth).
  • Jabatan yang berperan menciptakan lapangan kerja (pro job), seperti instruktur las, instruktur tataboga, dan instruktur tata rias.
  • Jabatan yang menciptakan pengurangan kemiskinan (pro job), seperti pamong belajar, pembimbing terapan teknologi tepat guna, penggerak swadaya masyarakat.
  • Jabatan yang berperan dalam pengendalian pertumbuhan penduduk, seperti penyuluh keluarga berencana.

Kebijakan Penerimaan CPNS 2014


1. Kebijakan nasional:

Zero growth atau rekrutmen hanya untuk menggantikan pegawai yang sudah pensiun, meninggal dunia, dipecat atau berhenti dengan tidak menambah jumlah pegawai secara keseluruhan.


2. Kebijakan institusional:
  • Minus growth diterapkan bagi instansi yang berdasarkan hasil analisa beban kerja (ABK) jumlah pegawainya sudah kelebihan, anggaran belanja pegawai lebh dari 50 persen APBD (untuk kabupaten/kota), dan bagi provinsi yang rasio belanja pegawainya lebih dari 30 persen APBD.
  • Sedangkan zero growth, diterapkan untuk instansi yang jumlah pegawainya cukup, rasio anggaran belanja pegawai antara 40 – 50 persen dari APBD (kab/kota), dan 25 – 30 persn (provinsi).
  • Sementara yang alokasi formasinya lebih besar dari jumlah PNS yang pensiun (growth), hanya diperbolehkan bagi instansi/pemda yang jumlah pegawainya sangat kurang, rasio anggaran belanja pegawainya kurang dari 40 persen dari APBD (Kab/kota), dan untuk provinsi yang rasio anggaran belanja pegawainya kurang dari 40 persen. Instansi yang tidak memiliki tenaga honorer kategori 1 maupun kategori 2 juga menjadi pertimbangan. Selain itu, dipertimbangkan juga rasio jumlah pegawai dengan jumlah penduduk, luas wilayah, kekurangan pegawai serta prioritas jabatan.

    Agenda dan Kegiatan Penerimaan CPNS 2014 (UPDATE)


    • Pendataan dan penyerahan usulan formasi: April - Mei 2014.
    • Pembentukan panitia penerimaan CPNS 2014 di tiap-tiap institusi atau BKD: Mei - Juni 2014
    • Penyusunan soal ujian: mulai Mei 2014
    • Pengumuman Formasi Lowongan CPNS: Agustus 2014
    • Pendaftaran CPNS 2014 dan seleksi berkas: Agustus - September 2014.
    • Penyusunan soal: mulai Juni 2014.
    • Pelaksanaan ujian dan tes CPNS: 8 September 2014 sampai selesai.
    • Pengumuman peserta yang lulus menjadi CPNS tahun 2014 melalui website: November - Desember 2014.
    • Penyerahan SK CPNS: Desember 2014 - Februari 2015.
    Jadwal Terbaru Penerimaan Pendaftaran CPNS 2014 dari kemenpan RI Resmi


        Jadwal penerimaan CPNS 2014 (UPDATE 22 Agustus 2014)


        Informasi Terbaru oleh pihak KEMENPAN mengenai pengadaan CPNS tahun 2014 antara lain:

        Penerimaan Pendaftaran seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2014 rencana awal mulai dibuka pada tanggal 20 Agustus sampai 3 September 2014. Sedangkan pelaksanaan tes dengan sistem computer assisted test (CAT) akan dilaksanakan mulai tanggal 8 September 2014 sampai selesai. Mudah mudahan ini tidak diundur lagi mengingat saat ini masih banyak instansi yang belum menyerahkan rincian formasi CPNS dan Syarat khusus penerimaan CPNSnya.

        *Update: Berdasarkan info terbaru, Pendaftaran CPNS 2014 kemungkinan akan dibuka tanggal 24 Agustus 2014. sumber info: regpanselnas.menpan.go.id.

        Postingan ini akan saya update terus jika ada perkembangan Informasi mengenai CPNS 2014

        Formasi CPNS 2014


        Banyak yang sudah menunggu Formasi CPNS 2014, menurut info sementara, tahun 2014 ini pemerintah meyediakan 100.000 Formasi untuk CPNS dan PPPK. Informasi mengenai Formasi CPNS secara pasti akan diketahui setelah ada pengumuman pembukaan CPNS 2014 secara resmi.

        SEPENGGAL KISAH SEJARAH BELAWA III

        Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa Sejarah belawa ada beberapa versi namun terlepas dari itu marilah kita mengambil hikmah dan hal positif dari cerita ini, kalau perlu jadikan motivasi untuk membangun belawa sesuai dangan keahlian diri kita masing masing Karena ada kasamaan cerita dari sumber kami yang sempat kami rekam,maka tulisan silessurengta Hasmulyadi Hasan yang beliau kirim kepada kami beberapa bulan lalu yg akan kami angkat di BC yang menurut pengakuan beliau di dapat dari Kantor DIKNAS Kec.Belawa. 

        Nama Belawa berasal dari sebuah pohon, yaitu pohon Belawa. Asal usul pohon ini hanya tumbuh di pinggir sungai di Macero. Ketika pohon itu tumbang, panjangnya bermula dari tikungan sungai Macero sampai Soreang Lopie, kira-kira jauhnya 2,7 km. bekas tempat tumbuhnya pohon tersebut ada sebuah lubang, sekarang menjadi penampungan air, garis tengah atau diameter lubang tersebut kira-kira 25 m. jadi besar pohon tersebut kurang dari 25 m. Getah kayu ini bila ditoreh akan keluar cairan berwarna putih, setelah kering berwarna hitam. Bila kena pada kulit manusia, kulit tersebtu akan gatal-gatal seperti keracunan dan membengkak berisi cairan. Obat mujarab dan sering digunakan oleh masyarakat adalah ludah orang Belawa asli, sifat penyakit ini tidak menular. Lokasi kecamatan Belawa dahulunya adalah air, setiap empat tahun baru daerah ini menjadi daerah pertanian. Jadi lebih banyak menjadi daerah pertanian. 

        Para nelayan datang dari sekitar danau tempe dan danau sidenreng. Misalnya orang Bulu Cenrana dari utara, orang Palippu dari timur, oran Sidenreng dari barat dan orang Bila dari selatan Soppeng. Kalau musim kemarau, tanah sudah kering datanglah petani-petani untuk berpalawija dan mereka tinggal sementara untuk bercocok tanam. Pada musim palawija dan musim penangkapan ikan dengan frekwensi satu kali palawija empat tahun berturut-turut. Setelah delapan tahun hampir seluruhnya menjadi daratan. Pada waktu datang air menggenangi semua pondok mereka, mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke kampung mereka dan berkumpul dengan keluarganya. Seorang sudah berusia lanjut, yang sering dipanggil dengan”lato-lato’ mencoba membuat rumah yang dapat terapung di atas air untuk menghindari banjir. Sehingga ketika musim hujan tiba, ia tidak perlu lagi pulang ke kampungnya di Bulu Cenrana. Ketika raja Toapanna dari Mancapai kawin dengan raja Masalaojie di Sidenreng dan melahirkan lima orang anak. Karena usianya telah tua, maka Masalojie merasa perlu membagi kerajaan kepada anak-anaknya. Maka diberikanlah anak pertama sebagai datu di Sidenreng, anak kedua si Suppa, anak ketiga datu di Sawitto, anak ke empat datu di Rappang, dan yang kelima datu di Alitta’. 

        Setelah pembagian kerajaan tersebut, Masalojie hamil, padahal ia tidak berharap sebab usianya telah tua. Ketika saat melahirkan tiba, lahirlah seorang putera dan diberinya nama “Lawewangriu”, hal ini dikarenakan ketika ia dilahirkan pertir dan guruh sambung menyambung (sianre-anre ure’ winrue) di samping itu juga dilahirkan dalam keadaan tanpa tali pusar dan janin. Karena kerajaan telah dibagi kepada saudara-saudaranya, maka Lawewangriu tidak punya kerajaan lagi, ibunya memohon kepada saudara-saudaranya untuk memberikan masing-masing sedikit dari kerajaan saudara-saudaranya, akan tetapi hal ini kurang disetujui oleh saudara-saudaranya yang lain. Kebijksanaan yang diberikan yaitu Lawewangriu boleh mengambil apa saja yang diinginkan dari kerajaan saudara-saudaranya itu tanpa ada yang dapat melarangnya. 

        Atas kebijaksanaan itu Lawewangriu bertindak semaunya. Apa yang diinginkannya, semua dilakukan tanpa ada yang melarangnya. Mulai dari burung sampai anak gadis orang pun diambilnya. Rakyat merasa resah karena ulahnya itu. Pemangku adat mengadakan rapat untuk membicarakan perihal Lawewangriu. Keputusan ade’ sidenreng menyatakan Lawewangriu harus dibuang demi ketentraman rakyat banyak. Maka dibuanglah Lawewangriu di atas sebuah rakit bersama pengikutnya yang turut serta. Rakit tersebut terdampar di bagian timur danau sidenreng. Anak buahnya naik untuk mencari tempat sebagai pemukiman tempat beristirahat, maka ditemukan sebatang pohon yang cocok untuk berteduh di bawahnya. Itulah pohon belawae. Di tempat itu anak buah Lawewangriu membuka lahan pertanian dengan menggunakan Bangkung manurung pemberian ibunya sewaktu hendak berangkat. Hasil pertanian cukup melimpah karena tanahnya cukup subur, demikian pula dengan hasil nelayan bagi mereka yang turun ke danau mencari ikan. 

        Karena kesuburannya serta keberhasilan pertanian, maka berdatanganlah penduduk dari sekitar tempat tersebut untuk bertani atau nelayan. Ketika Lawewangriu hendak menikah dengan anak Arung Batu, orang Belawa mengadakan musyawarah dengan pendatang dari daerah sekitar, maka dipanggillah: 1. Topatampanuae yang terdiri dari Wage, Tempe, Sengkang dan Tampangeng. 2. Tolimpanuae yang terdiri dari Sidenreng, Suppa, Rappang, Alitta, dan Sawitto. Adapun hasil musyawarah tersebut adalah: – Lawewangriu kawin dengan anak arung Batu – Orang Belawa menyanggupi uang belanja dari perkawinan tersebut – Topatampanuae menyanggupi uang emas. Setelah perkawinan di Batu (Bulucenrana) Lawewangriu kembali ke Belawa bersama istrinya. Karena panduduk semakin bertambah demikian pula hasil pertanian kian melimpah, maka masyarakat menginginkan terbentuknya sebuah kerajaan. Disepakatilah Lawewangriu menjadi raja Belawa. Masa pemerintahan Lawewangriu pernah berperang melawan sauadara-saudaranya sendiri yaitu Tolimpanuae dan kemenangan di pihak Belawa. Sebagai raja yang memerintah kerajaan Belawa, Lawewangriu mempunyai dua orang anak, maka kerajaan dibagi dua untuk dua orang anaknya. Belawa Timorengnge diberikan pada Lapalebbengi dan Belawa Wattangnge diberikan pada We Mappasukku anak perempuannya. Ketika anak raja bone akan dikawinkan dengan anak raja Sailong (bawahan kerajaan Bone), kerajaan Sailong merasa keberatan karena menganggap raja Sailong derajatnya lebih tinggi dari pada kerajaan Bone. 

        Mendapat penolakan dari raja Sailong, Bone merasa tersinggung, maka didatangkanlah tiga daerah untuk memerangi Sailong yaitu: Soppeng, Wajo, dan Bone sendiri. Belawa adalah kerajaan kecil yang mengikut kerajaan Wajo. Setelah tiga tahun berperang, benteng Sailong belum dapat ditembus, akhirnya raja Bone sendiri turun ke medan perang. Ketika raja Bone menanyakan tentang kehadiran semua pasukan, Wajo menyampaikan bahwa Belawa belum hadir, karena Arungpone marah dan berpesan pada pasukan yang hadir “jere’ tellui Belawa nainappa muelliang musiu (bagi tiga Belawa kemudian kamu belikan mesiu). Mengetahui dirinya dibagi tiga, kerajaan Belawa merasa tersinggung, maka bermusyawarahlah Towarani Pitue (tujuh orang pemberani) yang merupakan gelar yang cukup disegani di kerajaan Belawa pada saat itu. Atas kesepakatan, berangkatlah tiga orang menuju Sailong, sedang empat lainnya tetap menjaga kerajaan. 

        Adapun yang berangkat adalah Tallipulu Bassie, Lajang-lajang, Balo Tekkessue. Sebelum berangkat ke Sailong mereka berjanji yang bunyinya: “Cappa tappita’pa mappadaoroane nari jere’ tellu Belawa’. (nanti habis tujuh bersaudara baru Belawa dibagi tiga). Dengan menggunakan perahu, tiga orang tersebut menuju Sailong. Sesampainya di sana, Talippulu Bassie membunuh penjaga gadis Sailong yang bergelar Towaraninna Sailong, sementara lajang-lajangnge melarikan sang gadis yang bernama Itenri Balobo, dan Balo Tekkessue membakar kota dan mengambil gendang mesjid untuk dibawa ke Belawa. Ketika anak raja Bone hendak dikawinkan dengan gadis Sailong, Belawalah yang menjadi orang tua mempelai wanita. 

        Setelah perkawinan selesai, Belawa dipanggil oleh raja Bone dan menanyakan kekurangan Belawa, maka dijawablah bahwa Belawa tanahnya sempit. Sebagai balas jasa diutuslah Kareng Miko ke Belawa untuk memberikan tanah dengan menaiki perahu La Batang Kera. Batas-batasnya adalah: – Sebelah selatan Danau Tempe (masuk danau) – Sebelah barat daya Larippabbatu-batu, masuk sungai Lawewangriu – Sebelah utara barat laut, Ujung Deya masuk sungai Amessangeng sampai Cenrana-Anabanua, belok ke Lempong Sitonrae sampai Lasabo – Sebelah timur, ke Salo Labulu Kessi, menyeberang ke sungai Lonra, ke Belawa Tassoddo’e, Tellang Rakkoe Awo Tawaroe, ke Labobo, Ujung Tarae, sampai Lasiratu, Ujung Tanah Lapparingnge. Demikianlah sehingga wilayah Belawa mulai meluas.

        SEPENGGAL KISAH SEJARAH BELAWA II

        Legenda Berdirinya Kerajaan Belawa

        LEGENDA ASAL MULA KERAJAAN BELAWA


        Memenuhi   janji terhadap Saudara Abdul Jamil Akbar, maka kutuliskan salahsatu kisah pengantar tidur ini.  Sesuatu yang selalu kudengar setiap menjelang kuterlelap memasuki gerbang mimpi. Maka wajarlah jika  penghujung kisah ini tidaklah lengkap adanya, anggap saja aku sudah tertidur sehingga “endingnya” tidak sempat kudengar lagi. “Engkamuatu itEppang narEkko engka waju, mauni sopE’-sopE’, ndi’ “ (Adalah yang bisa ditambal kalau baju itu ada, walaupun robek disana-sini, dik..), begitu kataku melalui pesan di Facebook beberapa waktu yang lalu.

         “Sepenggal Kisah”  tentang berdirinya sebuah Kerajaan Kecil, yakni : Belawa. Uraian singkat yang tidak kumasukkan pada laman “Sejarah Belawa” karena motif warnanya lebih menyerupai sebuah Legenda adanya…

        Syahdan, dalam ruang  waktu yang sukar diterka, kapan terjadinya. Namun kisah ini bermula pada sebuah Kerajaan Kecil yang terletak di sebelah tenggara Kerajaan Rappang, yaitu : Bulu CEnrana. Tidak pula disebutkan nama Rajanya, namun yang diketahui bahwa Baginda Arung Bulu CEnrana pada waktu kisah ini dituturkan, adalah seorang Raja yang sudah berusia lanjut. Demikian pula dengan Permaisuri yang mendampinginya selama ini, beliaupun sudah tua. Rambut mereka sudah serba memutih, seiring dengan para keturunannya yang pada masa itu sudah berlapis 3 alias sudah memiliki cicit.

        Sebagaimana kebiasaan pada umumnya Kerajaan-Kerajaan lokal di Sulawesi, bahwa seorang Raja yang dicintai rakyatnya, tidaklah digantikan terkecuali 2 hal, yaitu : Wafat atau mengundurkan diri atas kemauan sendiri dengan menunjuk penggantinya. Begitu pula halnya  dengan  Arung Bulu Cenrana. Baginda tetap memangku jabatannya, namun segala harta bendanya telah habis dibagi-bagikan kepada anak-anaknya. “DE’to nasiaga iya uwanrE sipaddua, nakilEmba ri tana siwaliE” (Tidak seberapa lagi yang kami berdua makan, hingga saatnya meninggalkan dunia fana ini..), begitulah pemikiran Baginda bersama permaisurinya. Mereka saling memperhatikan dengan limpahan kasih sayang yang besar. “Tosiraga-raga mEmengna riwettu tuota mupa..” (Marilah kita saling melimpahkan kasih sayang, mumpung kita masih hidup..).

        Namun, “Elo paullEnapa PuangngE mappajaji mua, naiyya rupa tauE : Cinnanami maraja napunnai..”. Manusia hanyalah memiliki keinginan dalam perhitungannya sesuai kelaziman belaka. Dibalik itu, Allah SWT mutlak memiliki kehendak dan ketentuan dalam kuasa-Nya sendiri. Begitulah yang senantiasa diuraikan Sang Ayahanda kita setiapkali flot cerita tiba pada alur kisah ini.  Tanpa disangka, Sang Permaisuri yang sudah tua renta itu mengandung !. Duh.., Saudara Jamil, sebenarnya aku risih meriwayatkan kisah ini, karena pasangan suami isteri yang renta ini adalah leluhurku.. Subhanallah.

        Walhasil, setelah mengandung selama 11 bulan, Sang Permaisuri melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat. Maka sang pangeran yang baru lahir ini diberi nama : La Monri. Nama yang diambil berdasarkan  riwayatnya yang terlahir setelah kedua orang tuanya sudah uzur . “Monri” berarti : Belakang, bermakna ia  terlahir belakangan.

        Pangeran La Monri tumbuh dengan normal sebagaimana anak-anak lainnya. Namun suatu keistimewaan yang sudah Nampak pada karakternya, bahwa Pangeran Kecil ini memiliki kecerdasan dan penalaran yang melebihi anak-anak seusianya. Beliau yang masih berumur belasan tahun itu, sudah memiliki wawasan berpikir yang menyamai seorang lelaki dewasa.

        Sejak kelahiran La Monri, kedua orang tuanya senantiasa berpikir dan merasa iba kepada buah hatinya yang bungsu ini. Masalahnya adalah, segala harta pusakanya telah habis dibagi-bagikan kepada putera puterinya yang lain sebelum La Monri lahir. Sementara Raja dan Ratu ini merasa sudah semakin lemah tubuhnya digerogoti usia tua. “Bagaimana nasib putera kita nanti setelah kita meninggal nanti, kanda ?”, keluh Sang Permaisuri kepada suaminya. Arung Bulu CEnrana tidak bisa menjawab apa-apa. Ia sendiri merasakan gundah sebagaimana isterinya itu.

        Hingga pada suatu hari, Arung Bulu CEnrana memanggil semua putera-puterinya, termasuk segenap menantunya. Tak ketinggalan, La Monri juga hadir dalam pertemuan itu sambil duduk melenggut menyandarkan pipinya pada pangkuan ibundanya. Sang Permaisuri membelai rambut putera bungsu yang dikasihinya itu. “ Dengarlah,  wahai anak-anakku. Sengaja Ayahanda mengumpulkan kalian hari ini, tiada lain karena  sebagai panggilan kasih seorang ayah serta naluri cinta seorang ibu..”, kata Arung Bulu CEnrana memulai pembicaraan.

        “Kalian tahu bagaimana nurani seorang tua. Sesuatu yang kalian rasakan jua setelah melahirkan pula putera puteri kalian sendiri..”, lanjut Arung Bulu Cenrana dengan suara serak, sesuatu yang berat baginya untuk mengutarakan maksud hatinya. “TabE’ Puang. Aga sitongengna maElo nassuroeng Petta ri ikkeng ?” (Mohon ampun dibawah duli tuanku, tugas apa gerangan yang hendak tuanku perintahkan kepada kami ?), tanya Arung Lolo PatolaE (Putera Mahkota). Maka menjawablah Arung Bulu Cenrana, : “Tiada maksud lain yang hendak ayahanda dan ibunda kalian minta kepada kalian, yakni : Kasihilah La Monri, adik kalian. Orang tua kalian ini sudah sangat renta, agaknya tidak lama lagi kami akan dipanggil menghadap-Nya. Mengingat segala harta benda kami sudah kubagi-bagikan kepada kalian, maka kami memohon kiranya berilah sedikit bagian dari harta yang kalian miliki dari kami kepadanya. Agar adik kalian yang malang ini dapat pula hidup selayaknya..”.

        Mendengar perkataan itu, ributlah para pangeran dan puteri itu. Mereka saling menunjuk satu sama lainnya. Namun tidak satupun yang rela jika bagian warisannya diambil sebagian kecilnya untuk La Monri. Melihat tingkah kakak-kakaknya itu, maka terenyuhlah hati La Monri. Timbullah iba diri bercampur malu dan kecewa dalam hatinya. Pangeran kecil itu bangkit dari duduknya, seraya menghadap dan menghatur simpuh sembah kepada ayah dan ibunya. “Duhai, ayah bundaku terkasih. Kiranya janganlah merisaukan nasib ananda. Tuhan Yang Maha Kuasa berkehendak menciptakanku di dunia fana ini, maka kepada-Nya jualah ananda bermohon jaminan rezeki dan hidup…  Ananda hanya memiliki satu permohonan terhadap ayah dan bunda berdua. Kiranya berjanjilah untuk mengabulkannya..”, ujarnya bagai meratap.

        “Kuru Sumange’mu, anakku.. Katakanlah cepat, nak. Ayah dan ibumu berjanji untuk mengabulkannya..”, kata Arung Bulu Cenrana dengan suara serak dihimpit sedih. “Ananda tidaklah meminta sesuatu yang sulit. Ananda hanya memohon agar dibangunkah sebuah rumah diatas sebuah rakit. Kemudian hanyutkanlah rakit itu, dimana ananda berada diatasnya tanpa ditemani ayah dan ibu..”. Mendengar ucapan anaknya itu, Raja Tua dan permaisurinya itu merasakan bagaikan  ledakan petir menyambar di dekat telinganya. Sang Permaisuri  dan ibu susu La Monri serta segenap Inang pengasuhnya meratap seakan kehilangan sukma jiwanya. “Waduh, anakku sayang. Ibunda mohon, janganlah teruskan niatmu itu..”.

        Namun janji telah terlanjur diucapkan. “Sisengmi tauwwE rijajiang..”. Manusia dilahirkan hanya sekali, begitu pula dengan janji yang telah disanggupi sebelumnya. “Naiyya ada messuu’E ri timuE, taniana idi’ punna..”, sesuatu perkataan yang telah keluar dari mulut, bukanlah milik kita lagi. Demikian keteguhan prinsif moral yang menjadi dasar mentalitas orang Bugis pada masa itu.

        Akhirnya rakit pembuangan diri sebagaimana yang diminta La Monri telah dibuat. Begitupula hari yang telah ditentukannya sendiri untuk menghanyutkan diri bersama rakitnya juga telah tiba. Tidak boleh tidak, ibu susu dan para inang pengasuhnya minta diikutkan. Mereka memilih membuang diri ke sungai jika La Monri tidak bersedia membawanya serta. “AwwEE, lemmu togaha sunge’ku, massarang waE dadi’ malebbiku, riyalireng ronnang ri laowang mabElana..” (Aduh, bagaimana mungkin sukma jiwaku tega berpisah dengan air susu kemuliaanku, dihanyutkan menuju negeri yang jauh..), ratap Indo Kino, ibu susu La Monri. Terpaksa Pangeran Kecil yang dilanda kecewa itu mengabulkan permohonan mereka. Maka dibinalah beberapa rakit lainnya yang memuat serta para pengikut setianya dan segenap keluarganya.

        Setelah menghaturkan sembah sujud diujung kaki ayah bundanya, La Monri melangkah ke pinggir sungai. Sebelum kakinya menaiki rakit, ia berdiri menghadap ke para saudara-saudaranya, seraya menghentakkan kaki tiga kali. Kemudian diteriakkannya sumpah sebagai berikut : “Angkalingako sining To Bulu CEnranaE ! Maniang manorang. Orai’ Alau. Nasabbi Dewwata SeuwwaE, paccappureng ulEjja’ni tanaana Bulu CEnrana iyE essoE. Uwalireng alEku silollong tinio sunge’ku mattunru tooto. Sangadi tuppui solo’ raiku, ulEsu makkalEjja’ paimeng ri Tana pajajiangku. Sangadi engkapa buku-bukukku nalarieng balawo, natiwi lEsu romai, nariyasengnga’ lEsu ri tana ammEmengengku !” (Dengarlah wahai rakyat negeri Bulu CEnrana ! Yang bermukim di utara dan selatan. Yang berdiam di sebelah barat dan timur. Disaksikan Dewata Yang Tunggal, hari ini adalahyang terakhir kalinya kujejakkan kaki di negeri ini. Kuhanyutkan diriku bersama segenap semangat jiwaku yang mengabdi pada takdirku. Hanyalah jika rakitku mampu melawan arus, barulah kukembali menginjakkan kaki di negeri kelahiranku. Terkecuali jika kelak, tulang belulangku ada yang dibawa lari oleh tikus, lalu dibawanya kembali ke negeri ini, maka akau dikatakan kembali ke tanah asal muasalku !).

        Tak bisa lagi digambarkan, bagaimana sedihnya kedua orang tua La Monri, tatkala melihat tali penambat rakit yang memuat putera belahan jiwanya dilepaskan dari tiang labuhannya. Perlahan rakit-rakit itu hanyut di Sungai KarajaE, diiringi ratap tangis para rakyat Bulu CEnrana yang memenuhi pinggir sungai. Semakin lama, rakit-rakit itupun semakin jauh mengikuti arus sungai ke arah selatan, hingga hilang dari pandangan mata yang pelupuknya bersimbah air mata.

        Iring-iringan rakit itu hanyut mengikuti kemana air sungai KarajaE mengalir menuju muaranya. Didalam rumah rakit terdepan, La Monri berbaring dengan kepala diatas pangkuan Indo Kino, ibu susunya. Seorang wanita yang menyayangi anak susuannya itu melebihi rasa sayang terhadap jiwa raganya sendiri. Ia membelai rambut sang pangeran kecil yang malang itu sambil menembankan syair pengantar tidur yang indah. Dilagukannya dengan suara yang merdu, keluar dari hati yang jernih, sejernih air sungai KarajaE yang mengalir tenang.

        PalEsangni peddimu, Ana’ Senrimaku..

        Pawajangni ati marenni’mu

        Alirengni sajang rennummu

        Alitutui tinio sumange’mu



        Redakanlah pedihmu, duhai anakdaku yang mulia..

        Tiliklah hati kecilmu

        Hanyutkan saja kecewamu

        Jagalah semangat hidupmu

        Detik beriringan tiada henti, berkumpul dalam suatu rangkuman menit. Menitpun berlalu menuju kumpulannya, hingga menyatukan diri dalam himpunan jam. Kemudian jam mengikuti perjalanan sang matahari, hingga menamakan kelompoknya dalam suatu hari. Haripun berlalu hingga matahari tergelincir di ufuk barat, digantikan malam menyelimuti bumi dalam tirai gelapnya. Demikian waktu berputar pada siklusnya hingga menyebut diri sebagai saat.. Maka pada suatu hari, berakhirlah perjalanan arus sungai KarajaE pada muaranya yang pertama, yakni Danau Tempe yang luas. Rombongan rakit yang dibawanya dari Bulu Cenrana pun tiba pada tempat itu, terapung-apung ditengah danau yang luas itu.

        La Monri berdiri di geladak rakitnya, seraya mengedarkan pandangannya kesekeliling danau. Dilihatnya jika danau itu berada deitengah kumpulan pegunungan. “Sappaani’ wiring libukeng, naripasorE rai’E” (Carilah pinggir daratan lalu labuhkanlah rakit kita), katanya. Para pengikutnya yang mengemudikan rakit-rakit itu dengan “Tokong” (sebatang bambu panjang) mengarahkan rakit itu pada pinggir utara agak ke barat pada danau itu. Dari jauh, dilihatnya sebatang pohon Goari yang besar tumbuh di pinggir danau. Maka kesanalah arah buritan rakit diarahkan untuk mendarat.

        “Aga asengna iyE libukengngE, Indo’ ?” (Apa nama daratan ini, Ibunda ?), tanya La Monri pada ibu susunya beberapa saat setelah mendarat. “DE’, uwissengngi Ana Puangku..” (saya tidak tahu, anak tuanku). Demikian pula dengan segenap pengikut yang lain, tidak ada yang mengetahui nama daratan itu. “NarEkko makkoitu palE’, ripoasengni iyE LibukengngE : GOARIE” (Kalau begitu, lebih baik jika daratan ini dinamakan saja GOARIE). Maka sampai saat ini perkampungan pinggir danau dimana La Monri beserta pengikutnya mendarat tetap bernama : GoariE. Berasal dari nama sebatang pohon besar yang tumbuh ditempat itu dan dijadikan sebagai petunjuk arah mendarat.

        Syahdan, La Monri beserta pengikutnya menetap beberapa lama di tempat itu. Mereka membangun perkampungan sambil memulai bercocok tanam. Para pengikut itu membawa serta cukup banyak biji-bijian serta alat-alat pertanian dari Bulu CEnrana. Selain itu, merekapun dapat pula menangkap ikan yang berlimpah di danau itu. Namun, malang tak dapat diraih. Suatu ketika, saat tanaman palawija yang ditanam dan dirawatnya selama ini sudah siap dipanen, tiba-tiba banjir meluap.  Permukaan danau yang tadinya agak jauh dari perkampungan, tiba-tiba meluas hingga menenggelamkan ternak dan perkebunan mereka. Padahal, hujan tidaklah begitu lebat di daerah itu. Akhirnya mereka mengerti, bahwa danau itu adalah muara banyak sungai dari segala arah. Mereka harus mencari tempat yang lebih tinggi.

        Maka La Monri memimpin para pengikutnya kearah utara, tempat yang lebih tinggi. Akhirnya ditemukanlah sebuah dataran tinggi yang banyak ditumbuhi pohon Belawa. Sejenis pohon besar yang getahnya dapat mengakibatkan alergi pada kulit. Seseorang yang tersentuh getahnya akan mengalami pembengkakan pada sekujur tubuhnya disertai gatal-gatal yang nyeri. Sejenis pohon yang ditakuti orang, hingga bahkan memilih hujan-hujanan dari pada berteduh dibawahnya. Demikian pula dengan para pengikut La Monri, mereka enggan membuka perkampungan dikawasan itu. Namun La Monri berkeyakinan tetap, jika pada kawasan inilah mereka menemukan harapan masa depan yang cerah.

        Dengan tenangnya La Monri mendekati sebatang pohon Belawa terbesar disekitar tempat itu. Dihunusnya “Sapu Kale’ Arajangna Bule CEnrana” (Keris berluk satu, Pusaka Bulu CEnrana) yang dibekalkan kedua orang tuanya, seraya mengucap amsalnya dengan lantang : “TabE’, iya’na wija riyalirengna Bulu CEnrana, wanua apolEngenna sia appongengmu, Belawa. Ujeppu tosianguru toto, aja’ tosipaitang sussa, tosicalowo manguru lipuu. TabE’ kuwassimang mEmeng, inappa kutEbba’ to’ mannesamu, tekkupalEsso ranru’ atuonengmu, nasaba iya minasaE, maEloo’E puasengngi asengmu iyE lipuu’E” (Mohon maaf, akulah putera yang dihanyutkan dari Bulu CEnrana, negeri asal muasal pokok pohonmu, Belawa. Kuketahui jika kita senasib adanya, maka janganlah kisa saling memberi kesulitan, saling mengasihilah kita dalam satu negeri. Kuhaturkan permohonan maafku terlebih dahulu, barulah kutebang pokok pohon lahirmu, tanpa bermaksud menyingkirkan tunas hidupmu, karena tiada lain maksudku, berkeinginan untuk menamakan negeri ini sebagai namamu jua..). Maka ditebaslah batang pohon itu, lalu getahnya dibalurkan pada kulitnya sendiri. Ajaib, tidak terjadi sesuatu pada kulit La Monri. Lalu diperintahkannya pada pengikutnya untuk memulai menebang pohon Belawa dikawasan itu.

        Walhasil pada permukaan kisah ini, perkampungan yang dibangun oleh La Monri bersama pengikutnya itu dinamakan sebagai : BELAWA, sesuai sumpah La Monri. Perkampungan itu tumbuh berkembang sebagai pemukiman yang subur. Sawah dan perkebunan dicetak pada lahannya yang datar namun berada pada tempat yang lebih tinggi. Segala tanaman padi dan palawija tumbuh dengan suburnya hingga panen selalu berlimpah. Waktu demi waktu, perkampungan itu semakin ramai karena para masyarakat yang berkaum disekitarnya menggabungkan diri dibawah kepemimpinan La Monri. Hingga ketika Sang Pangeran telah berusia cukup dewasa, maka pemukiman yang sudah besar itu dinyatakan sebagai sebuah Kerajaan dengan La Monri sebagai rajanya yang pertama, bergelar : La Monri Arung Belawa.

        Syahdan, pada suatu waktu terjadi musim paceklik di Bulu CEnrana dan sekitarnya. Masa ketika Arung Bulu CEnrana tua dan permaisurinya (Ayah bunda La Monri) telah wafat. Tanaman padi dan palawija tidak dapat tumbuh berbuah sebagaimana yang diharapkan. Maka terjadilah bencana kelaparan di negeri itu. Arung Bulu CEnrana yang baru dinobatkan menjadi kehilangan akal menghadapi bencana itu. Demikian pula dengan para perangkat kerajaan yang lain.

        Dalam suasana memprihatinkan itu, dilihatnya burung-burung pipit terbang berombongan sambil membawa bulir-bulir padi. Mereka membawanya ke sarangnya yang terletak di wuwungan Saoraja (Istana). “Pastilah ada suatu negeri yang sedang panen padi berlimpah. Tapi dimanakah gerangan ?”, pikir sang Raja. Lalu diperintahkannya seorang kepercayaannya untuk mengikuti arah terbang burung-burung pipit itu. Baginda berusaha mencari tahu negeri yang makmur itu dengan harapan untuk dimintai bantuan.

        Walhasil, alangkah utusan itu mengikuti rombongan burung-burung itu dengan berbagai kesulitan yang ditemuinya dalam perjalanan. Bagaimana tidak ?, burung-burung itu terbang dengan amat cepatnya, sementara ia sendiri harus berjalan kaki merambah hutan rimba yang lebat. Terpaksa ia harus menempuhnya selama berhari-hari. Apabila burung itu tidak bisa diikutinya, ia menunggu di tempat  itu hingga esok hari. Burung-burung mestilah terbang kembali mengikuti jalur terbangnya. Tidak seperti halnya manusia, mereka kadang tidak konsekwen mengikuti alur hidupnya.

        Akhirnya tibalah ia di Negeri Belawa. Alangkah terkejutnya ketika menemui penduduk negeri itu adalah orang-orang yang dikenalnya sebagai rakyat Bulu Cenrana juga. Namun ia lebih takjub lagi ketika mengetahui bahwa Raja negeri yang makmur itu adalah La Monri, putera bungsu mendiang junjungannya, Arung Bulu Cenrana. Maka mengahadaplah ia seraya mengutarakan perihal kesulitan yang dialami rakyat Bulu Cenrana.

        La Monri sesungguhnya adalah seorang raja yang berjiwa besar. Mengetahui perihal kesulitan yang dialami kakak-kakaknya beserta rakyat mendiang ayahandanya, maka diperintahkannya mengumpulkan padi dan kerbau untuk dikirim ke Bulu Cenrana. Konon, padi-padi itu ditumpuk menyerupai sebuah bukit kecil saking banyaknya. Secara berkelakar, ia menyebut bukit padi itu sebagai “Mojong” (Asal kata Gunung Latimojong). Maka tempat pengumpulan padi itu dinamai hingga sekarang sebagai kampung bernama : Mojong (saat ini menjadi wilayah Kabupaten Sidrap). Kemudian diperintahkannya rakyatnya memanggul padi-padi itu serta menghalau iringan kerbau yang jumlahnya ribuan ke Bulu Cenrana. Berkat kebaikan hati serta kedermawanan La Monri itu, utusan Negeri Bulu Cenrana menyebutnya sebagai ” TosagEnaE” (Orang yang berhati lapang).Maka dalam penyebutan gelar “TosagEnaE” jika menurut kisah ini, telah ada jauh sebelum “Syekh Belawa” (Pu SEhe’) yang juga digelari pula sebagai “TosagEnaE”.

        Iring-iringan pemanggul padi ke Bulu Cenrana menyusuri pinggir sungai KarajaE menuju ke utara. Sementara itu para pengembala menghalau kerbau-kerbau yang jumlahnya ribuan itu melalui sungai yang kebetulan pada saat itu sedang dangkal. Namun malang tak dapat dihindari, ketika tiba disuatu tempat yang tidak begitu jauh lagi dari perbatasan wilayah Bulu Cenrana, tanpa diduga sebelumnya air sungai meluap dari arah hulu. Banjir besar melanda dan menenggelamkan ribuan kerbau itu. Demikian pula dengan pemanggul padi beserta bawaannya, tidak luput dari terjangan air bah itu. Mereka terpaksa melepaskan bawaannya untuk menyelamatkan jiwanya.

        Maka berlakulah kadar Allah SWT yang diakibatkan oleh sumpah La Monri sebelum meninggalkan Bulu CEnrana. Bahkan hasil keringatnya pun tidak bisa lagi kembali ke daerah asalnya. Peristiwa itu kini menjadi sebuah “Mytos”, bahwa : Naiyya tanaE Belawa, wedding mua natamai waramparang. NaEkia dE’ siseng-siseng nawedding ripessuu waramparangna ri saliwenna ritu.. (Sesungguhnya negeri Belawa dapatlah memasukkan harta benda didalam negerinyanya, namun pantang mengeluarkan harta benda didalamnya ke luar batas negerinya..).

        Padi-padi yang hanyut itu kembali lagi ke Belawa dan tumbuh subur di tanahnya. Adapun halnya dengan tempat dimana kawanan kerbau itu tenggelam, didapatkan banyak tengkorak kepala kerbau beserta tanduknya bertebaran ketika sungai mendangkal di musim kemarau. Maka tempat itu dinamai sebagai : “Tanru TEdong” hingga dimasa kini.

        Alkisah, DatuE La Monri wafat . Pada masa itu, rakyat Belawa belum menganut agama Islam, sehingga jazad Baginda diperbukan dan ditempatkan dalam sebuah guci (Balugu). Kemudian dengan penuh kebesaran, guci abu itu disemayamkan di Mojong. Baginda ditulis dalam Lontara dengan nama lengkapnya : La Monri Arung Belawa MammulangngE Petta MatinroE ri Gucinna.

        Wallahualam Bissawwab

        Sumber : 1. Andi Panguriseng (A. Mori. Alm),

                       2. H. Abd. Rauf Bin H. Pattola (Alm.),

                       3. PanrE Lammade (Alm.)

        SEPENGGAL KISAH SEJARAH BELAWA I

        Oleh: Abd Jamil Hs
        Pada Tgl: 22-Oktober-2009 di sebuah kampung kecil Bernama TOSORA Kec.Majauleng Kab.Wajo, Saya duduk menatap sebuah Makam di halaman bekas Masjid yang diperkirakan telah berusia -/+700 Tahun yg kini telah menjadi situs, Makam tersebut adalah Makam pemilik masjid yang bernama: ASSYEIKH AL-HABIB JAMALUDDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI atau biasa di kenal dengan panggilan Petta WalliE

        Setelah Membaca Al Fatihah kepada beliau, aku teringat dengan SYEH TOSAGENA/SAGENA yg cukup melegenda di BELAWA bahkan di daerah lain, apakah kedua sosok ini mempunyai keterkaitan dan apa pula kaitannya dengan BELAWA ? Berikut Penelusuran kecil-kecilku yg kudapat dari berbagai sumber termasuk hasil diskusi dengan silessurengta Ambo Tang Daeng Materru :
        Tahun 1300 M Danau Tempe atau bahasa para leluhur kita Tappareng Karaja masih merupakan
        Danau yang cukup Luas tidak seperti saat ini yang sudah berbentuk Rawa-rawa yang kian hari mengalami pendangkalan, Tosora yang merupakan pusat kota kerajaan Wajo saat itu cukup ramai termasuk bandar Niaga Tosora yang menghubungkan kerajaan lain termasuk kerajaan soppeng dan sidenreng.
        Adalah Petta WalliE setelah dari Aceh,Jawa dan mengajarkan Ilmu Islam kepada beberapa muridnya yg saat ini di kenal nama WALI SONGO beliau dan beberapa pengikutnya pun hijrah ke tanah bugis tepatnya di Tosora Wajo dan membuat perkampungan di seputar Tappareng Karaja (Danau Tempe), penduduk Wajo menyebut mereka kaum Ba Alawiyah jadi kalau penduduk ingin ke kampung tersebut mereka mengatakan: “Maeloka Lao Ri Kampongna Tau Ba ‘alawiyah E”, dan Seiring perjalanan waktu, glottal- glottal kata “Ba Alawiyah” perlahan berubah menjadi BELAWA .
        Ditengah Kepercayaan Animisme yg masih dianut penduduk kerajaan Wajo, kaum Ba Alawiyah dikomunitasnya tetap hidup secara Islam bahkan Petta WalliE mempunyai murid dan kemungkinan di antaranya adalah SYEH SAGENA atau yang lebih populer dengan nama SEHÉ’ TOSAGENA.
        Seiring waktu kampung Ba Alawiyah (Belawa) semakin ramai karena tanahnya yg subur dan ikan melimpah dan saat ini telah menjadi Kecamatan di Kab.Wajo, tak banyak adat istiadat animisme atau kebiasaan orang dulu di daerah ini seperti daerah lain karena dari awalnya Belawa memang penganut ISLAM, Belawa Memang mempunyai banyak perantau karena memang cikal bakal daerah ini dari Perantau.
        SYEH JAMALUDDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI adalah Guru Para Wali Songo di tanah jawa termasuk keturunannya yaitu Sunan Gunung Jati telah menjadi bagian dari Wajo dengan dibangunnya sebuah masjid di Tosora. Tak Banyak Lontara’ yang menulis tentang beliau atau mungkin para penulis lontara’ saat itu menilai Petta WalliE hanya orang Asing dan yang lebih penting Proses Islamisasi pada tahun 1600an yg di lakukan Trio datuk (datuk patimang,datuk ri bandang,datuk ri tiro) akan TERELIMINASI mengenai Islamisasi di tanah bugis.
        Pada tahun 1415 M -/+ 200 tahun sebelum kedatangan trio datuk tersebut. SYEH JAMALUDDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI meninggal dunia dan dimakamkan di Tosora kec.Majauleng.

        Wallahu Wallam

        Catatan: SYEH TOSAGENA sendiri Wafat di Tanah Suci dan di makamkan di pekuburan para wali disana yg bernama SUBAEKAH sedangkan di makam di jln.yehSagena belawa hanyalah makam ibu beliau.

        Gas Elpiji Langka di Kabupaten Wajo, Warga Pakai Kayu Bakar

        TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kebutuhan akan pemakaian gas untuk bahan bakar kompor membuat komsumen mengeluh terutama di Kecamatan Belawa, Wajo.
        Susahnya untuk memperoleh gas tersebut membuat kebutuhan masak-memasak harus dialihkan sementara ke kayu bakar.
        Distributor Gas Elpiji, Intan (38), Selasa (11/8/2014) menjelaskan beberapa hari ini stok gas habis, hal itu membuat sebagian orang harus beralih ke kayu bakar.
        "Beberapa tetangga mencari gas tetapi stok belum datang juga. Kondisi ini sudah berlangsung beberapa hari," ujarnya.(*)

        Pengadaan LPSE Kabupaten Wajo

        Kode Lelang : 501335

        Perkerasan Jalan Wele - Padange Kec. Belawa (Lelang Ulang)

        Satuan Kerja:Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wajo
        Lokasi Proyek:Kecamatan Belawa - Wajo (Kab.)
        Nilai HPS :
        Rp 249 jt
        Nilai Pagu :
        Rp 250 jt
        Pengumuman Lelang:20 Agustus 2014
        Penawaran Terakhir:26 Agustus 2014

        Status Lelang:Terbuka

        Tahap Lelang



        Kode Lelang:501335
        Nama Lelang:Perkerasan Jalan Wele - Padange Kec. Belawa (Lelang Ulang)
        Agensi:LPSE KABUPATEN WAJO
        Satuan:Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Wajo
        Kategori Lelang:Pekerjaan Konstruksi
        Metode Pengadaan:e-Lelang Pemilihan Langsung
        Metode Kualifikasi:Pasca Kualifikasi
        Metode Evaluasi:Sistem Gugur
        Tahun:2014
        Pagu:Rp 250.000.000,00
        HPS:Rp 249.751.000,00
        Lokasi:Kecamatan Belawa - Wajo (Kab.)
        Kontrak:
        Cara PembayaranHarga Satuan
        Pembebanan Tahun AnggaranTahun Tunggal
        Sumber PendanaanPengadaan Tunggal
        Kualifikasi:Perusahaan Kecil
        Sumber Dana:APBD
        Website:ke website pengadaan terkait

        Banjir Wajo, Petani Rugi Rp2 M

        SENGKANG - Dinas Pertanian Wajo mengaku mengalami kerugian Rp2 miliar, akibat banjir yang merendam 3.048 hektare tanaman padi, dan jagung 888 hektare, sejak Mei 2014. 

        "Dari 3.048 hektare yang terendam, yang mengalami kerusakan khusus padi seluas 624 hektare, dan yang terendam 888 ha 324 hektare mengalami kerusakan," kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Wajo Syahrullah, Minggu (17/8/2014). 

        Untuk tanaman lain yang terendam, masih relatif aman, dan saat ini sudah siap panen. Bahkan sudah ada yang panen. "Setelah dikalkulasi, kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar," terangnya. 

        Daerah yang terendam banjir merupakan daerah yang berada di Kecamatan Pesisir Danau Tempe dan aliran Sungai Walennae. 

        "Luas tanaman keseluruhan di 14 kecamatan, seluas 75.159 ha, yang puso 624 ha, dan luas tanam jagung 1.439 ha, tapi yang mengalami kerusakan 888 ha (puso), yang rusak seluas 324 ha," ungkapnya. 

        Sementara itu salah seorang petani di Kecamatan Pammana mengatakan, harga gabah di daerah tersebut terjadi, pada Mei dan Juni, sempat anjlok. Harga normal Rp3.200 dihargai Rp2.900 hingga Rp2.800 per/kg.

        “Banjir datang  pas mau panen, sehingga banyak gabah yang rusak terendam,” kata salah seorang Petani di Pammana La Muhammad.

        Dia mengatakan, akibat banyaknya gabah yang rusak, harga gabah di daerah tersebut turun drastis, bahkan mencapai Rp2.900 hingga Rp2.800 per/kg. “Gabah yang hitam justeru ada yang lebih rendah lagi,” katanya.

        Seperti diberitakan sebelumnya, banjir di Kabupaten Wajo menerjang lima kecamatan, terdiri dari Kecamatan Pammmana, Sabbangparu, Tempe, Belawa, dan Kecamatan Tanasitolo. 

        Sementara itu, di Kelurahan Laelo, Kecamatan Tempe, data yang dihimpun menyebutkan, lebih 300 rumah sudah terendam banjir dengan ketinggian air sekitar satu meter lebih.

        Sumber : SINDO
         
        Support : 125Project | Mas Template
        Copyright © 2014. Selamat Datang di Web Belawa - All Rights Reserved
        Mainteance by Admin